Rabu, 28 November 2007

TEKNIK PENGECATAN AIR BRUSH PADA KERAJINAN KULIT

A. Pendahuluan
Seni Kerajinan tatah sunggimg di Bantul Yogyakarta dewasa ini mengalami penururan omset, sehingga banyak perajin yang pindah profesi. Hal ini dikarenakan oleh berbagai alasan diantaranya kondisi sosial dan politik negara yang tidak kondusif, menurunnya daya beli masyarakat oleh berbagai sebab, produk yang dihasilkan kurang bervariasi (monoton) dan semakin menurunnya kualitas produk yang dihasilkan. Oleh karena itu untuk mencegah jangan sampai kondisi yang demikian berlarut-larut yang akan mematikan usaha para perajin tatah sungging, maka perlu adanya diversifikasi produk, terutama yang berkaitan dengan masalah finishing dengan mengembangkan pengecatan dengan metode yang lain yaitu pengecatan dengan teknik air brush (baru dalan finishing seni tatah sungging). Pengembangan finishing tatah sungging ini diharapkan dapat mengasilkan produk yang bervariasi dan berkualitas, sehingga dapat menarik minat konsumen.
Penelitian ini memiliki tiga tujuan utamanya, yaitu untuk meningkatkan nilai ekonomi, menghasilkan produk kerajinan lebih bervariasi, dan menciptakan buku panduan pembelajaran teknik pengecatan air brush khusus untuk kerajinan kulit. Untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan akan dilakukan kegiatan penelitian sebagai berikut: (1) melakukan eksperimen penerapan teknik air brush pada kerajinan kulit, (2) menyusun buku panduan berdasarkan pada hasil aksperimen yang dilakukan dan VCDnya. Tujuan yang pertama merupakan tujuan utama yang diharapkan akan dicapai setelah kegiatan penelitian yang direncanakan memakan waktu dua tahun. Oleh karena itu yang akan dilakukan pada tahun pertama ini penelitian untuk menjawab pertanyaan kedua dan ketiga saja.

B. Eksperimen Teknik Air Brush Pada Kerajinan Kulit (tatah sungging)
Dalam eksperimen penerapan teknik cat air brush untuk kerajinan kulit akan dilakukan dua eksperimen, yaitu menerapkan teknik air brush secara murni, dan menerapkan teknik air brush dikombinasikan dengan teknik sungging kulit. Hasil dari kedua eksperimen itu akan diperbandingkan, kemudian dinilai, hasil yang berhasil bagus (paling baik), teknik itulah yang direkomendasikan untuk digunakan dalam finishing kerajinan kulit. Adapun eksperimen ini dilakukan dengan langkah-langkah: menyiapan bahan, alat, proses pengecatan (eksperimen penerapan teknik air brush), finishing, menyusun hasil eksperimen yang telah ditemukan. Berkaitan dengan kegiatan eksperimen teknik air brush pada kerajinan kulit di Gendeng, Bantul, Yogyakarta, sebelumnya perlu diketahui beberapa hal yang berkaitan dengan bahan, peralatan, langkah-langkah pengecatan teknik air brush dan teknik sungging.

1. Bahan
Bahan yang dibutuhkan alam eksperimen ini terdiri dari beberapa macam yang dikelompokkan pada bahan utama dan bahan pendukung, yang semuanya akan digunaan dalam kegiatan ini. Bahan yang dinamakan pula dengan material merupakan bagian yang sangat penting dalam pembuatan suatu produk, oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang baik perlu diupayakan bahan yang baik pula.
a. Bahan Kulit
Bahan baku yang dimaksudkan adalah bahan mentah atau bahan dasar untuk diolah melalui proses produksi menjadi barang jadi, bahan kebutuhan pokok untuk membuat sesuatu. Kaitannya dengan kerajinan kulit (tatah sungging) adalah bahan mentah dari kulit binatang yang akan dibuat menjadi produk atau barang. Bila diperhatikan semua jenis kulit binatang herbivora yang memiliki ketebalan yang memadahi dapat dipakai sebagai bahan baku dalam kerajinan kulit.
Namun belum semua kulit binatang dapat dimanfaatkan karena berbagai hal yang menyangkut masalah tradisi, teknologi dan langkanya kulit, sehingga hanya beberapa macam saja yang sudah digunakan. Beberapa kulit binatang yang dipakai sebagai bahan baku kerajinan kulit antara lain kulit kerbau, kulit sapi dan kulit kambing. Ketiga macam kulit binatang itu memiliki sifat-sifat dan karakter yang berbeda satu dengan lainnya.
1). Kulit kambing (domba)
Setelah dilakukan proses awal, kulit kambing (domba) dapat digunakan sebagai bahan baku kerajinan kulit. Namun mengingat ketebalan kulit yang dimiliki oleh jenis kulit ini, maka barang kerajinan kulit yang dihasilkan dengan bahan baku kulit kambing terbatas, pada barang-barang yang membutuhkan kulit yang tipis saja. Di samping itu kulit kambing bila disamak bulu dapat digunakan untuk barang hiasan, dengan memanfaatkan keindahan bulu kambing tersebut. Hiasan yang dihasilkan dengan bahan kulit kambing samak bulu ini memanfaatkan keindahan bulu kambing yang dikombinaikan dengan motif-motif yang diterapkan pada lembaran kulit yang berupa wayang, kaligrafi dan lain sebagainya. Bila kulit disamak bulu, akan tahan lama dan bulu dari kambing khususnya kambing jawa ini tidak mudah tercabut.
2). Kulit sapi (lembu)
Kulit sapi atau lembu merupakan salah satu bahan baku yang digunakan dalam kerajinan kulit. Umumnya dipakai untuk mewujudkan barang-barang hiasan, dan barang-barang yang membutuhkan ketebalan. Untuk dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Kulit sapi ini harus mengalami pengolahan-pengolahan yang menyangkut tentang penanggalan bulu dan menipiskannya. Kulit sapi ini memiliki sifat kaku dan mudah melengkung bila kondisi lingkungan sekitar panas, tetapi akan mudah kendur (lembek) dalam keadaan lembab. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan kulit untuk menyerap dan melepas uap air yang relatif lebih cepat. Sifat yang demikian disebabkan oleh luas permukaan dan jumlah pori-pori persatuan luas jauh lebih besar dibandingkan dengan jenis kulit binatang lainnya.
3). Kulit Kerbau
Kulit kerbau ini merupakan jenis kulit binatang yang banyak dipakai dan dianggap paling baik untuk bahan baku kerajinan kulit pada saat ini. Bahkan menurut sejarahnya kulit kerbau ini telah lama dipakai oleh nenek moyang bangsa Indonesia dalam pembuatan wayang kulit. Dilihat dari fisiknya kulit kerbau mempunyai jaringan serat yang kasar, sehingga lebih kuat diandingkan dengan kulit binatang lainnya. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian laboratorium, menurut Soemitro Djojowidagdo yang melakukan penelitian tersebut, kulit kerbau lebih baik sebagai bahan pembuatan barang kerajinan kulit (wayang kulit) karena memiliki beberapa kelebihan. Pertama, kekuatan fisik yang berkaitan dengan kekakuan dan tahan kerut. Kekakuan berguna untuk mempertahankan bentuk, sedangkan tahan kerut hubungannya dengan ketahanan kulit terhadap suhu lingkungannya. Kedua, kulit kerbau dalam hal menyerap dan menguapkan uap air relatif rendah (Djojowidagdo, 1985: 17).
Kelebihan lain dari kulit kerbau yang masih muda, yang disebut dengan kulit gudel, Kulit kerbau jenis ini jaringan seratnya lembut dan halus dibandingkan dengan kerbau yang sudah tua. Kulit gudel akan tahan lama dan tidak mudah patah bila terlipat, karena kulit gudel ini memiliki elastisitas tinggi.
Berkaitan dengan masalah proses pembuatan barang, kulit gudel ini lebih lunak, sehingga pahat yang dipakai tidak lekas tuinpul dan hasil tatahan akan lebih halus. Adakalanya dijumpai kulit kerbau muda yang berpenyakit kurap (disebut dengan gudig) yang nampak jelek dan tidak pantas untuk dimanfaatkan. Namun menurut para ahli kerajinan kulit tradisional, kulit gudel yang demikian itu merupakan bahan yang terbaik untuk pembuatan barang kerajinan kulit. Sebab kulit binatang yang pada masa hidupnya berpenyakit kurap, kadar lemak yang dikandungnya sangat rendah. Kulit dengan kadar lemak sedikit itu yang membuat warna-warna yang dipakai akan tahan lama dan lebih cemerlang. Sebab bahan warna akan melekat dengan sempurna, dengan kulit yang demikian itu kemungkinan jamur atau cendawan tidak akan tumbuh (Soehatmanto,1970:23).
4). KuIit Binatang lain
Seperti telah diungkapkan di inuka, bahwa semua jenis kulit binatang yang dalam perkulitan termasuk keloinpok hides dapat dipergunakan. Jenis kulit yang masuk dalam kelompok ini memiliki ketebalan yang mencukupi dan luas perinukaannya. Beberapa jenis binatang yang pernah dicoba, antara lain : kulit rusa , jenis kulit binatang ini hampir sama dengan kulit kambing, hanya ketebalainlya inendekati kulit sapi. Ciri fisik yang inenonjol adalah memiliki keuletan dan kekerasan yang luar biasa, sehingga bila digunakan untuk bahan kerajinan kulit memerlukan pengolahan khusus.
Kulit Babi hutan (celeng) bila dilihat secara sepintas wujud kulit binatang ini hampir sama dengan kulit kerbau, baik bulu dan warnanya menyerupai kerbau jawa. Namun bila diolah untuk bahan kerajinan kulit kurang baik, di samping terlalu keras juga cukup ulet yang dapat merusakan pahat kulit.
Kulit kuda, jenis kulit binatang ini ukuran luasnya cukup memadahi, yaitu hampir sama dengan luas kulit sapi atau kerbau. Bila diolah jenis kulit kuda ini warnanya buram yang menyerupai kertas karton, mudah patah bila terlipat, serta cukup sulit untuk dikerjakan. Umumnya digunakan untuk barang kerajinan kulit yang tidak banyak menggunakan motif. Namun dari pengalaman dalam tatah sungging, bahan yang baik yang mudah dikerjakan, wujudnya menarik sebagian besar adalah dari kulit binatang pemakan rumput.
b. Bahan cat (pewarna)
Pewarnaan dalam tatah sungging kulit yang ini dicapai adalah kombinasi tradisional atau pewarnaan dengan teknik tatah sungging yang telah memiliki ciri khas, dikobinasikan dengan teknik pengecatan dengan air brush, sehingga akan diperoleh finishing kesajinan tatahan sungging yang kombinatif dan mengagumkan dan elum perneh dilakukan oleh siapapun. Diharapkan dengan memadukan dua teknik pengecatan itu akan memberikan nuansa pewarnaan yang lebih menarik.
Bahan cat atau pewarna yang dibutuhkan untuk kegiatan ini dikelompokkan menjadi dua yaitu bahan warna yang digunakan untuk proses mengecat dengan teknik sungging yang lazim dipakai oleh para perajin di Gendeng bantuk Yogyakarta, dan bahan pewarna (cat) yang digunakan dalam pengecatan teknik air brush.
Bahwa warna yang dipakai dalam kegiatan pengecatan dengan teknik air brash, agak berbeda dengan bahan yang dipakai pada teknik yang sama pada umunya, yaitu menggunakan cat yang berbasis minyak. Pada pengecatan teknik air brush pada media kulit dipakai cat yang berbasis air. Hal ini dengan pertimbangan bahwa kulit memiliki jaringan dan pori-pori sehingga akan mudah menyerp cat yang berbasaik air dari pada cat minyak yang hanya akan menutup permukaan kulit. Dengan cat yang menggunakan aiar sebagai bahan pencairnya warna dapat menyatu, sehingga warna yang dinginkan mudah tercapai.
Banyak jenis cat acrelic yang ditawarkan di pasaran, namun berdasarkan pengalaman untuk mengecat kulit tidak semua akan dapat digunakan, tetapi harus dipilih pewarna acrelic yang memiliki kecepatan kering cukup, tidak terlalau cepat dan memiliki daya kemampuan menutup dengan baik. Jenis cat acrelic yang demikian itu diantaranya cat dengan label (merk) dipasaran dengan nama mowilex, dengan beraneka macam warna dengan kualitas baik. Agar cat itu dpat disemprotkan maka diperlukan bahan pencairnya, dalam kegiatan ini tidak menggunakan air saja, tetapi dapat menggunakan jenis cat mowilex clear yang dicairkan dengan air, dengan perbendingan tertentu, akan menghasilkan warna-warna yang baik dan cemerlang.

2. Peralatan untuk teknik cat air brush
Peralatan untuk teknik cat air brush terdiri dari beberapa peralatan yang utama, kemudian juga menggunakan alat pendukung lainnya. Alat utama terdiri dari sprayer atau penyemprot, kompresor (air sources), pisau kater dan alat ilmu ukur, sedangkan alat pembantu berupa essel (alat penyangga) alat pemotong (cutting board), dan beberapa peralatan pembantu lainnya.
a. Sprayer (penyemprot)
Sprayer atau alat penyemprot disebut pula dengan sebutan pen, hal ini kemunkinan berkitan dengan fungsi alat tersebut yang digunakan untuk menggambar seperti alat gambar pena atau bentuknya yang menyerupai bentuk pen. Secara garis besar spreyer terdiri dari tiga tipe yaitu single action airbrush, double action air brush, dan independen airbrush (Arya Setiawan, 2003:13-14). Sumber lainnya menyebutka ketiga tipe pen itu adalah single action (iternal mix), single action (external mix) dan duble action (internal mix) Han’s Ranjiwa,2006: 14). Namun yang popular (sering digunakan) adalah single action airbrush dan double action air brush saja.
Tipe pen single action berkeja dengan satu gerakan ( tekanan) cat dan angin keluar bersama-sama, sedangkan tipe duble action memerlukan dua gerakan, yaitu gerakan pertama untuk memancarkan angin, dan gerakan kedua baru catnya keluar. Umumnya bagi pemula disarankan untuk menggunakan tipe pertama yaitu single action, karena hanya membutuhkan satu pengontrol tekananan ke satu arah. Untuk merakayang telah mahir berkreasi dengan alat sprayer ini dianjurkan dengan menggunakan tipr kedua yaitu duble action, dengan pertimbangan sisi praktisnya saja. Ketika permukaan yan akan dicat banyak dikotori oleh debu, maka dengan menggunakan trigger ke arah bawah angin akan keluar sehingga dapat menyapu bersih permukaan itu dengan debu, sebelum pengecatan dilakukan.
Banyak dijumpai bermacam merk pen yang dapat dibeli di Indonesia dengan harga yang bervariasi dan beberapa kualitas, semakin mahal kualitasnya akan semakin baik. Ada dua wilayah yang meproduksi jenis pen ini yaitu negara Amerika Serikat yang memproduksi jenis pen dengan merek dagang Badge, Pasche, Phaantom, Iwata, Thayer dan Chandler, yang umumnya memiliki kualitas dan bentuk yang ergonomis. Negara China dan Taiwan negara lainnya yang memproduksi pen dengan merk Meiji dan Badger yang dijual dengan harga murah (Han’s Ranjiwa, 2006: 15). Dalam berkarya dengan air brush dibutuhkan alat yang baik dan berkualitas agar dapat mendukung proses berkarya. Namun keberhasilan dalam berkaya, bukan ditentukan oleh pen atau peralatan yang baik, tetapi lebih ditentukan oleh kreativitas penggunanya.
b. Kompresor (air sources)
Dalam pengecatan dengan teknik air brush hal pokok yang harus dipersiapkan adalah tekanan udara untu mengeluarkan cat melalui sprayer, sehingga cat dapat memancar. Untuk keperluan itu diperlukan suatu alat yang mengeluarkan angin yang dinamakan dengan kompresor (air sources). Ada dua tipe kompresor, yaitu kmpresor langsung (diect compresor) dan kompresor bertangki (tank compresor), tangki dalam kompresor berfungsi untuk menampung angin. Di samping itu tenaga untuk menghidupkan kompresor terdiri dari dua macam, yaitu menggunakan bahan bakar minya dan listrik (Zainal Abidin dan M.Gatot Pringgotono, 2002, 5-6).
Hal yang penting untuk diperhatikan berkaitan dengan kompresor ini adalah tekanan angin yang konstan, sehingga tidak akan mempenaguhi proses pengecatan dengan teknik air brush. Bedasarkan pengalaman kompresor yang menggunakan tangki lebih baik, karena angin yang dikelurkan lebih konstan, dibandingkan dengan menggunakan kompresor langsung. Kompresar listrik umumnya yang menjadi pilihan, sedangkan untuk kompresor minyak disediakan sebagai cadangan jika terjadi pemadaman listrik.
c. Pisau pemotong (cutter) dan alas memotong (cutting board)
Pisau potong dibutuhkan dalam pembuatan pola atau cetakan, oleh karena itu dibutuhkan pisau yang tajam dan runcing. Dalam kegiatan pengecatan dengan teknik air brus alat pemotongnya menggunakan cutter. Ada dua macam catter ini yaitu kater yang dapat ndiganti mata cattur (pisaunya) dan cutter yang harus dipatahkan ketika mata tajamnya telah tumpul. Jenis pisau ini akan menhasilkan goresan yang rapi dan tidak berberigi. Alat pemotong ini dapat diganti dengan tatah kayu atau tatah kulit, terutama ketika cetakan yang dibuat rumit, sehingga kater tidak mamapu menjangkaunya, sehingga hanya menggunakan pahat sebagai solusi pegatasannya.
Ketika memotong dibutuhkan landasan potong agar hasil potongan bersih dan baik. Alat yang umumnya digunakan adalah MDF (Medium Density Bard) atau dapat menggunakan papan kayu (tripek). Alas memotong yang dapat digunakan lainnya adalah kaca, tetapi jenis alas pemotong ini membuat pisau cepat tumpul.
d. Peralatan pembantu lainnya
Peralatan yang telah diuraikan di atas merupakan alat utama dalam proses pengecatan dengan teknik air brush, di samping alat utama dibutuhkan pula alat-alat pembantu lainnya yang beetujuan untuk memperlancar kegiatan tersebut. Beberapa jenis alat pembantu yang dibutuhkan adalah (1) masker dan sarung tangan, (2)selotif, maknet dan spray maunt artist’s adhesive (lem berbentuk Spray), (3) lap kering, kertas karton, (4) penyangga/essel, (5) kuas, aneka penggaris, mistar, jangka dan pencil, (5) filter air, (6) exhaust fan/alat penyedot debu dan piranti komputer/foto copy. Keberadaan peralatan tersebut sangat dibutuhkan dalam rangka memeperlancar proses pengecatan, karena ada beberpa aspek yang perlu diperhatikan misalnya aspek kesehatan dan aspek keselamatan kerja (Zainal Abidin dan M.Gatot Pringgotono, 2002, 4 -11).

3. Teknik Pengecatan Air Brush
Secara umum proses mengecat dengan teknik air brush adalah membuat rencana gambar yang meliputi bentuk dasar dan bagian-bagian ditailnya. Jika gambar sketsa selesai dan telah sesuai dengan yang diinginkan selanjutnya dibuat cetakan dengan menggunakan kertas karta, dengan jalan membuat lubang-lubang sesuai gambar yang diiginkan. Baik bagian yang di potong atau dilubang dan hasil lubangan semuanya digunakan sebagai cetakan. Kegiatan selanjutnya menempelkan pola atau cetakan itu pada sehelai kertas yang akan digunakan untuk membuat gambar dengan air brush. Untuk menempatkan cetakan pada posisi sebenarnya diletkkan sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian gambar yang saling tumpang tindih. Untuk selanjutnya menyemprotkan warna, dimulai dari warna dasar (beground) gambar.
Banyak pengalaman yang diperoleh selama melakukan kegiatan ini, diantaranya berkaitan dengan peralatan kompresor yang anginnya tidak dapar konstan mengalirnya, sehingga perlu pembenahan di sana sini. Angin merupakan bagian terpenting dalam pengecatan dengan teknik air brush, keluarnya angin sangat berpengaruh terhadap lancarnya keluarnya cat. Jika angin dari kompresar kekuatan pancarnya rendah, akan ditemukan kesulitan besar, yaitu akan kesulitan membuat garis yang kecil atau bentuk titik kecil, karena cat tidak menjangkau hingga bidang yang di cat. Oleh karena itu pelatihan mengendalikan peralatan sangat penting.
Pengecatan dengan teknik air brush langkah-langkah pengecatan juga ada namun tidak serumit dalam teknik tradisional. Langkah-langkah mengcat dengan teknik air brus dapat dijelaskan sebagai kerikut:
1). Pengecatan dasar
Pengecatan dasar dalam kegiatan ini dilakukan berbagai persiapan berkaitan dengan kondisi bahan (bidang) yang akan di cat yang perlu dibersihkan dari debu, minyak dan sebagainya, sehingga permukaan itu bersih. Selanjutnya dilakukan pengecatan dasar yang bertujuan untuk menghaluskan bidang kulit yang akan dicat, dengan menutup pori-porinya. Kegiatan berikut menlakukan pengamplasan dengan amplas waterproof ukuran 300. Pengampasan ini dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan mesin amplas. Dengan menggunakan warna kuniang atau putih, dapat dilakkan secara manual atau disemprotkan dengan pen.
2). Penempatan cetakan
Penempatan cetakan untuk memperoleh hasil yang maksimal perlu dilakuakan dengan hati-hati motif yang menjadi model ditempatkan pada posisi yang diinginkan beserta cetakan lain yang berupa lubang yang bentuknya sama dengan model. Setelah model tepat di posisinya kemudian cetakan yang berupa lobang model diambil. Oleh karena itu yang tersisa tinggal modelnya, selanjutnya direkatkan dengan lem praymont ( lem berbentuk spray) pada bagian belakang model.
3). Pengecatan begraund
Pengecatan begraund cat hitam (gelap) disemprotkan dengan tidak merata, sehingga bagian yang tidak tertutup model terkena warna semuanya. Namun perlu diketahui dalam pengecatan teknik air brush pada kerajinan kulit tidak memiliki beground, sehingga kegiatan ini tidak dilakukan.
4). Pengecatan Model
Model dilepaskan, kemudian diganti dengan cetakan berlubang bekas model, selajutnya di cat dengan wana muda (misalnya warna kuning) secara bergradasi, dan cat dibiarkan mengering. Pada tahap berikutnya menyemprotjkan warna tua (misalnya warna merah) pada bagian tepi model, hanya pada bagian tepi model secara bergradasi, semakin ke tepi warnanya semakain tua.
5). Pelapisan warna.
Tahap terakhir dari proses pewarnaan dengan teknik air brush ini dilakukan dengan melapis warna-warna tersebut dengan bahan yang tembus pandang seperti cat mowilex clear. Kegiatan ini bertujuan untuk menutup warna hasil pengecatan denga teknik air brush agar lebih tahan lama, lebih hidup dan terlindung dari binatang perusak dan penyebah kerusakan warna lainnya.
Pelapisan warna merupakan langkah terakahir dari kegiatan mengecat dengan teknik air brush. Karya yang telah diwarna selanjutnya difinishing dengan penerapan bahan pendukung, misalnya gapit, pigura, dan sebagainya. Jika finishing dengan memasang bahan pendukung telah dilakukan, maka produk seni tatah sungging dengan pengecatan teknik air brush dapat dipakai/ dipergunakan.
Hal penting yang harus diperhatikan selama melaksanakan pengecatan, yaitu kesabaran kita untuk menunggu keringnya cat. Umumnya terutama para perajin pemula atau yang baru mengenal teknik pengecatan dengan air brush ini akan buru-buru ingin melihat hasilnya, sehingga banyak melakukan kesalahan. Jika warna yang belum kering di tutupi dengan warna baru, maka akan terjadi pencampuaran warna, oleh karena itu hasil pengecatan menjadi rusak atau tidak sesuai dengan keinginan kita. Untuk menjaga hal tersebut tidak terjadi hrus menunggu proses pengeringan cat. Dallam industri besar, ruang pengecatan disediakan secara khusus yaitu ruang yang dilengkapi dengan pemanasan cukup, sehingga cat akan cepat mengering. Ruang itu menggunakan lampu-lampu khusus, kemudian dinding dilapisi dengan lapisan khusus pula, untuk itu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk para perjin atau industi kecil pengeringan dengan diangin-anginkan atau dijemur pada panas sinar matahari, sehingga lebih murah dan terjangkau.

4. Teknik Pengecatan Sungging
Pengecatan kulit kombinasi teknik air brush dan teknik sungging, dimulai dengan penegcatan dengan teknik air brush. Jika bagian yang diwarna dengan teknik air brus selesai dilanjutkan dengan teknik sungging. Bagian-bagian yang diwarna dengan air brush merupakan bagian polos yang sedikit tatahan, sedangkan untuk teknik sungging dikhususkan pada bagian yang benyak hiasan tatahannya. Selanjutnya proses singging dilakukan sebagai kerikut.
1). Dasari (ndasari)
Ndasari merupakan proses menyungging yang paling awal, yaitu memberi warna dasar pada bidang kulit yang akan disungging secara tipis dan rata. Umumnya memakai warna kuning, warna kuning gadhing (warna campuran antara kuning dan putih), atau menggunakan putihan balung (warna putih yang menggunakan abu tulang). Tujuan dari kegiatan ndasari ini antara lain untuk menutup pori-pori kulit, agar permukaannva menjadi rata dan padat, membuat semacam pondasi atau dasaran bagi warna-warna berikutnya. Oleh karena itu proses ndasari ini sangat penting untuk diperhatikan, karena bila ada kesalahan dalam proses ini kemungkinan besar warna tidak mau melekat pada kulit, retak-retak, kulit menjadi tidak rata (nglunthung) dan sebagainya.
Cara yang baik dalam ndasari dapat dilakukan dengan mengkwaskan warna dengan kwas cat dasar, dengan tipis dan rata yang dilakukan berulang kali. Dalam kegiatan ini diusahakan tatahar. tidak tertutup oleh cat dasar (buntet), cat dasar tidak terlalu tebal.
2). Tahap merno (mewarna)
Tahap merno ini yang dimaksudkan adalah pelaksanaan menyungging kulit (mengecatkulit) dengan bermacam-macam warna. Dalam kegiatan ini diterapkannya dasar-dasar atau satuan sungging kulit dengan ketentuan-ketentuan yang telah diketahui secara tradisi pula. Di samping ketentuan menyungging yang telah dianut sejak lama, dalam kegiatan merno ini harus memperhatikan bentuk tatahannya. Seperti kegiatan merno ini harus memperhatikan bentuk tatahannya. Seperti tatahan sembuliyan (penggambaran lipatan-lipatan kain), disungging dengan tlacapan, bila ukuran sembuliyan itu besar. Sedangkan sembuliyarn yang berukuran kecil menggunakan sungging sawutan, kelopan atau plerokan. Kemudian bagian tatahan seritan (rambut) kecuali rambut geni, disungging dengan blok hitam sesuai dengan warna rambut. Untuk bagian-bagian yang menggambarkan kain bermotif dapat disungging dengan bludiran, sungging cinden atau semen.
Dalam merno ini diperhatikan pula mengenai kombinasi warna dan karakternya. Kombinasi warna yang telah dilakukan secara tradisional seperti kombinasi warna merah dengan hijau, biru dengan kapurento, jingga (orenye) dengan ungu (violet) lain sebagainya, telah membuktikan keharmonisannya. Warna-warna kontras tersebut setelah diolah dengan sistem gradasi dan dikombinasikan dengan warna kunina emas. menjadi kombinasi warna yang segar dan menawan. Dalam proses memo im yang akan diuraikan adalah karya tatah sungging kulit yang kaya akan warna, vaitu wayang kulit. Proses memo yang dimaksudkan seperti terurai berikut ini :


a). Nyemeng
Setelah dasaran selesai dilakukan berikutnya barang tatah sungging itu diwarna hitam, khususnya pada bagian yang sesuai dengan warna ini, misalnya bagiari rambut wayang kulit, yang didalam bahasa jawa warna hitam disebut pula dengan cerneng.
b). Amrada (mewarnai dengan prada)
Memberi warna kuning emas pada bagian-bagian yang pantas dinamakan dengan amrada. Amrada yang dimaksudkan dalam tulisan ini mewarnai kuning emas dengan bahan emas yang dibuat pipih seperti kertas. Kadar emas yang umum dipakai untuk bahan ini berkisar antara 18 karat hingga 22 karat. Prada dilekatkan terlebih dulu sebelum warna lainnya. Tetapi bila dipakai warna emas yang bukan dari emas atau dikenal dengan brom, dapat dilakukan setelah warna lainnya selesai.
c). Amepesi
Maksud dari istilah ini adalah membetulkan bagian-bagian yang seharusnya tidak diprada atau menyempurnakan bentuk hiasan den-an menggunakan warna putih yang sekaligus sebagai dasar dari warna selanjutnya.
d). Anjambon
Anjambon yang dimaksudkan adalah mewarna merah muda pada bagian kulit yang ingin disungging dengan merah. Warna merah muda, dalam bahasa Jawa disebut dengan warna jambon.
e). Anjene
Anjene yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah mewarnai bidang kulit dengan warna kuning. Dalam tatah sungging kulit dipakai dua macam kuning, yaitu warna kuning enom (kuning muda) yang naniinya dipakai untuk gradasi wama hijau. Kemudian warna kuning tua, yang kemudian akan menjadi gradasi dalam warna kapurento dan warna jingga. Warna kuning tua yaitu warna kuning yang menyerupai warna buah kunir (kunyit).
f). Ngijem nem
Setelah warna kuning enom selesai disunggingkan, kemudian dituwani atau disepuhi dengan warna hijau muda dan merupakan tingkat gradasi awal untuk warna hijau selanjutnya. Istilah ini diambil dari bahasa Jawa, warna hijau disebut ijem.
g). Ambiru
Mewarnai bidang kulit dengan warna biru enom disebut dengan ambiru. Seperti pada warna yang lainnya dalam menyungging harus memperhatikan bentuk tatahan, sehingga antara warna dan tatahannya akan sesuai. Untuk warna biru umumnya dipakai pada tatahan inten-intenan atau penggambaran bebatuan, yang dipakai sebagai perhiasan.
h). Anjingga
Mewarnai bidang kulit dengan warna jingga yang umumnya dikombinasikan dengan warna ungu (violet). Warna jingga yang sering disebut oranye ini merupakan gradasi selanjutnya dari warna kuning tua. Bila telah dilakukan beberapa tingkat warna, maka pada bagian ini akan menjadi warna tone jingga (Sagio dan Samsugi, 1991)



i). Anyepuhi
Anyepuhi adalah mewarnai bagian yang telah diberi warna enom atau tua dengan warna-warna yang lebih tua atau gelap. Misalnya warna biru dengan biru yang lebih gelap, warna hijau dengan warna hijau gelap, warna jambon dengan warna merah yang agak tua dan warna kethel, dan lain sebagainya. Dalam hal nyepuhi ini yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai gradasinya, antara warna yang satu dengan warna lainnya tidak terlalu jauh. Tingkatan-tingkatan warna disesuaikan dengan bidang sungging yang ada. Jumlah tingkatan warna tidak dibatasi, semakin banyak tingkatannya akan semakin baik. Bidang yang kecil jumlahnya tidak banyak, tetapi setidaknya memiliki tiga tingkatan warna. Untuk membuat warna menjadi tua atau gelap, dapat ditambah dengan warna hitam, semakin banyak tambahan warna hitam, maka warna akan semakin tua (gelap).
3). Isen-isen (memberi isian)
Isen-isen yang dimaksudkan ialah memberi variasi isian pada bagian bidang kulit yang telah diwarna, kegiatan ini untuk memperindah sunggingan itu sendiri. Kegiatan isen-isen ini dapat disebut pula dengan make up untuk sunggingan kulit. Bentuk isian yang biasa digunakan dalam seni tatah sungging tradisional antara lain cawen (cawi), drenjeman, waleran, isian cacah gori (bempa garis silang), sisik dan lain sebagainya.
Dalam hal isen-isen ini bentuknya dapat disesuaikan dengan keinginan, asal isian itu dapat menyatu dengan bidang yang dihiasi. Oleh karena itu isen-isen mempunyai variasi yang tidak terbatas. Seperti diketahui dalam tatah sungging tradisional dikenal beberapa aturan-aturan baku yang telah lama dianut berkait penerapan isen-isen ini. Seperti sungging tlacapan atau sawutan isian yang biasa diterapkan antara lain berupa cawen, dan giyu saja. Sedangkan untuk sungging blok (byur) menggunakan isian yang sesuai dengan sifat sunggingan itu. antara lain waleran dan dranjeman namun tidak menutup kemungkinan variasi lain yang dianggap sesuai dengan sifat dan bentuk bidang sunggingnva, sehingga akan mengetengahkan nuansa lain.
4. Angedus (ambabar)
Angedus adalah langkah-langkah terakhir dalam menyungging kulit, setelah proses isen-isen selesai dilaksanakan, termasuk di dalamnya telah disungging ula-t­ulat bagi barang tatah sungging yang mempunyai karakter seperti wayang, maka proses selanjutnya adalah Angedus atau Ambabar. Tujuan dari proses ini adalah memberikan lapisan penutup bagi permukaan kulit yang telah diwarnai dengan bahan yang trasparant. Bahan yang biasa digunakan antara lain ancur lempeng, putih telur, vernis dan politur. Cara pelaksanaan angedus adalah mengulaskan bahan penutup itu secara merata, tipis dan diulangi hingga permukaan kulit mengkilap. Untuk itu cairan yang dipakai haras tepat dalam mengkwaskannya, tidak boleh ngembong (istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian yang masih tergenang air, bila itu diterapkan pada sunggingan yang dimaksudkan adalah bagian cat yang masih atau terlalu banyak cairan cat pada bidang sungging kulit. Dengan genangan yang banyak air itu, membuat permukaan Kulit yang disungging menjadi tidak rata keringnya). Khusus untuk prada umumnya tidak dilapisi, bila terkena lapisan kilatan emasnya akan hilang. (Sunarto, 1997, 166)
Di samping menggunakan bahan tradisional tersebut di atas, dapat pula menggunakan bahan-bahan pelapis modern. Umumnya bahan pelapis modern tidak menggunakan kwas, tetapi memakai alat semprot (spreyer). bahan itu antara lain pisatif, varnis acrelic dan bahan pelapis merk pilox dan sebagainya. Bila menggunakan bahan modern ini cukup memberi harapan pada masa yang akan datang. Namun untuk menggunakannva memerlukan latihan secara khusus. Maksud dan tujuan dari kegiatan angedus ini antara lain untuk memberikan perlindungan terhadap warna, agar lebih kuat, mengkilap dan tahan lama.

C. Eksperimentasi pengecatan Air Brush dan produknya
Eksperimentasi teknik air brush yang diterapkan pada kerajinan kulit di Gendeng Bantul, Yogyakarta, dilakukan dengan prinsip triyel and erorr artinya dilakukan dengan percobaan-percobaan yang berulang-ulang, dengan berbeagai kegagalan yang menjadi modal untuk percobaan selanjutnya. Namun demikian tidak asal mencoba tetapi didasari oleh pengalaman-pengalaman empiris, berkaitan dengan komposisi warna, prisip-prisip pewarnaan dan pengalaman yang berkaitan dengan masalah teknis. Oleh karena itu percobaan yang dilakukan tidak lagi berawal dari nol, tetapi berdasarkan asumsi peneliti yang ditarik dari pengalaman empiris tentang pengecatan dengan teknik air brush dan pewarnaan tradisional yang dinamakan teknik sungging.
Pewarnaan dengan teknik air brush dimulai dari persiapan dan pelatihan kecil penggunaan alat lebih mengenal karakter alat yang digunakan terutama penggunaan pen. Langkah-langkah dipersiapkan adalah:(1) prayer atau pen dengan memperhatikan ujung selang agar dibuat ikatan kencang dengan memutar klem. Selanjutnya dihidupkan kompresor dan dicek kondisi selang dan sambungannya. Dipastikan tidak terjadi kebocoran angin. (2) campuran warna (3) tuangkan ke wadah pada pen (4) pencampuran cat dengan menggunaan angin pada sprayer dengan memutar head ke posisi luar dan (5) mengembalikan head keposisi semula, dengan demikian pen siap digunakan (Han’s Rajiwa, 2006:27).
Agar penggunaan alat semakin terbiasa, perlu latihan pendahuluan untuk membuat bentuk titik, hal ini perlu dilakukan karena pengecatan dengan teknik air brush, karakteristik semprotan ditentukan oleh jarak semprotnya. Oleh karena itu latihan ini akan bermanfaat ketika akan melakukan pengecatan sudah dikeahuai berapa jarak ketika akan menyemprotkan cat. Di samping bentuk titik, perlu dilatih pebuatan garis, baiak garis lurus, garis lengkung dan kombinasi garis lurus dan garis lengkung. Juga bentuk-bentuk dasar lainnya perlu dicoba terlebih dahulu sebelum dimulainya pembuatan karya. Setelah persiapan peralatan sprayer dan latihan dasar, dilakukan pula persiapan bahan yang akan di warna atau di cat. Kulit yang akan diwarna, dihaluskan daulu dengan menggunakan amplas, hingga permukaan kulit rata dan halus. Jika kulit akan diwarna selruhnya tanpa menampakkan kulit aslinya, maka permukaan kulit harus didasari, tetapi jika ada bagian kulit yang ditampilkan aslinya, yang didasari hanya bagian ornamentasinya saja.
Pewarnaan dengan teknik air brush pada kerajinan kulit, sedikit berbeda dengan pewarnaan air brush pada umumnya. Jika dalam pengecatan dengan teknik air brash dibutuhkan pola atau cetakan, dalam seni kerajinan kulit pola sudah ditatahkan pada sehelai kulit, sehingga tidak dibutuhkan lagi cetakan, namun diganti dengan peneutup sementara. Oleh karena itu pewarnaan yang dilakukan harus sesuai dengan pola hias yang telah ditatahkan pada kulit. Untuk itu dapat mengacu pada perwarnaan tradisional atau dapat pula dilakukan berdasarkan pada teori pewarnaan modern yang dikenal sekarang ini.
Pewarnaan pada kerajinan kulit dengan penerapan teknik air brush secara murni, akan diperoleh produk yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Jika dilihat dari pemahaman tradisi dalam kerajinan kulit ada suatu yang hilang. Kesan agung yang akan muncul ketika menggunakan teknik sungging tidak diperolehnya. Namun penggunaan pengecatan air brush pada kerajinan kulit menghasilkan produk yang baru artinya produk yang sebelumnya belum ada, sehingga dapat menjadi sebuah alternatif dalam finishing kerajinan kulit. Ditinjau dari sudut pandang estetika, produk yang dihasilkan dengan finishing air brush, masih belum memenuhi selera. Hal ini ada hal-hal yang tidak diperhatikan dalam melakukan finishing dengan air brush ini. Diantaranya warna disemprotkan ke bidang yang akan diwarna, tanpa memperhatikan ornamrntasi yeng telah dihasilkan oleh tatahan kulit. Ada kontradiktif antara pengecatan dengan ornamen yang diterapkan. Semestinya pewarnaan harus memperhatikan bentuk hiasan atau ornamentasi pada benda tersebut, sehingga keduanya saling mendukung untuk menambah indahnya penampilan produk itu. Oleh karena itu kedua unsur penghias itu kurang menyatu.
Finishing dengan teknik air brush cocok diterapkan pada kerajinan kulit yang tidak berhias atau polos. Pola atau catakan dapat diterapkan tanpa harus memperhatikan dekarasi yang telah ada. Penerapan warna juga tidak dibatasi oleh bentuk ornamentasi dari tatahan, sehingga dapat bebas sesuai dengan kebiasaan dalam melukis dengan teknik air brush. Seperti halnya pembuatan hiasan dengan air brush yang umumnya, diterapkan pada benda-benda kayu, kain, kaca, logam, dan sebagainya, yang sebelumnya tidak dihias dengan ornamen atau dekorasi tatahan (ukiran). Oleh karena itu perlu dilakukan penciptaan produk kerajinan kulit yang tidak ditatah tetapi dihiasi dengan motif yang dihasilkan dengan pengecatan air brush. Hal ini merupakan produk baru dalam seni tatah sungging.
Dalam kerajinan kulit di luar negeri (Amerika Serikat) teknik air brush digunakan sebagai sarana atau teknik untuk mempertegas karakter, misalnya untuk memberi nuansa demensi pada mata, bagian hidung kuda, sehingga lukisan kuda tersebut nampak lebih hidup. Air brus ini digunakan pula untuk memberi tekanan (fokus) pada hiasan tatahan timbul pada barang tas yang diperuntukan bagi kendaraan bermotor (moge), sehingga hiasan itu tampak berkarakter dan menonjol.
Eksperimen pengecatan dengan kombinasi teknik air brush dan teksnik sungging, mnghasil suatu produk yang sangat menarik. Produknya berbeda dengan yang selama ini dihasilkan oleh para perajin seni kerajinan kulit. Jika penerapan masing-masing teknik sesuai dengan bentuk ornamen tatahannya akan menghasilkan suatu yang baru. Hal ini didukung oleh kelebihan teknik pewarnaan masing-masing. Perpaduan teknik dengan keunggulannya masing-masing itu dapat memberikan nilai keindahan yang baru dan dapat menjadi salah satu alternatif yang direkomendasikan untuk finishing dalam seni kerajinan kulit.
Produk kerajinan kulit (tatah sungging) di Gendeng Bantul Yogyakarta, yang selama ini diwarna dengan teknik sungging dengan berbagai keterbatasannya, dapat menjadi suatu yang memiliki daya pikat setelah dipaukan dengan teknik air brush. Hal ini diketahui air brush mampu menghasil kan warna-warna gradasi yang lembut dan konstan, yang tidak mungkin diperoleh pada tekni sungging. Misalnya pada sebuat kipas kulit tunggal yang umumnya pada bagaian tengahnya digunakan untuk tulisan mempelai, jika kipas itu dipakai sebagai sovenir manten. Ketika fenishingnya menggunakan sungging saja bagian tengah yang kosong untuk menaruh tulisan ini dibiarkan polos, tetapi setelah dikombinasikan dengan teknik air brush dapat dibuat demensinya dengan kuasan warna gradasi yang lembut, sehingga lebih indah dan menawan.
Penggunaan dua teknik pewarnaan ini akan memperkaya teknik finishing dalam seni kerajinan kulit, yang diharapkan dapat menorong lahirnya produk-produk baru yang memiliki nilai estetis yang tinggi. Produk yang bervariasi akan mepermudah atau memperbanyak pilihan bagi konsumen, dengan demikian akan terjadi peningkatan jumlah produk yang dijual.
Produk-produk yang menjadi sasaran eksperimen pewarnaan ini adalah produk-produk yang menurut pengamatan peneliti cukup digemari oleh konsumen. Mulanya produk ini di finishing dengan teknik sungging atau hanya diberi kontur dengan warna emas saja. Agar produk jenis ini dapat lebih bervariasi dan tampil dengan warna-warni, maka dipakai sebagai barang uji coba. Warna yang ditampilkan tidak lagi berpedoman pada warna yang dipakai dalam seni tatah sungging, tetapi dirancang lebih segar dengan komposisi pewarnaan modern. Walaupun fungsi dari produk tersebut masih sama dengan sebelumnya, namun dengan variasi pewarnaan akan memperkaya jenis produk dan akan memberikan pilihan yang lebih banyak. Apa lagi dengan melakukan penganekaragaman produk dengan fungsi yang lain diharapkan akan menjadi daya tarik tersendiri.
Pemanfaatan pewarnaan teknik air brush akan mendorong produk kerajinan kulit di Gendeng Bantul Yogyakarta lebih bervariasi dengan kualitas penampilan yang semakin baik.
D. Penutup
Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini perrlu disampaikan hal-hal sebagai berikut: Pengecatan dalam kerajinan kulit di Gendeng Bantul Yogyakarta, dengan teknik air brush, menghasilkan produk-produk semakin lebih indah, lebih menarik, dan memiliki nilai estetis yang ukup baik, apa lagi jika pewarnaan dikonbinasikan dengan pewarnaan tradisional (teknik sungging) akan menghasilkan nuansa warna-warni yang menajubkan dan menambah variasi peoduk yang dihasilkan. memanfaatkan teknik pengecatan tekni air brush yang telah dimodifikasi ini untuk meningkatkan mutu kualitas produknya, meningkatkan kualitas produk sesuai dengan tuntuan konsumen dan harga dapat ditekan sehingga terjangkau oleh kemampuan konsumen, diharapkan dapat meningkapkan ekonomi, sehingga akan lebih sejahtera.
Oleh karena itu perlu disarankan: Teknik pengecatan teknik air brush pada kerajinan kulit di Gendeng Bantul Yogyakarta dapat dikatakan masih baru, sehingga perlu penyesuaian-penyesuaian, baik yang manyangkut masalah teknik, tata kerja, maupun pembiasaan dalam proses finishing kerajinan kulit. mendatangkan pasar tersendiri, membutuhkan sarana yang cukup mahal, penyediaan SDM yang terampil berkaitan dengan pengecatan teknik air brush.


DAFTAR PUSTAKA

Arya Setiawan, 2003, Teknik Dasar Menggambar dengan Air Brush, dilengkapi dasar-dasar menggambar, Absulut, Yogyakarta
Han’s Ranjiwa, 2006, Teknik Dasar Air Brush untuk Pemula, Penerbit Kawan Pustaka, Jakart
Iman Buchori Zaenudin, “Peranan Desain dalam Peningkatan Mutu Produk”, dalam Paradigma Desain Indonesia, Rajawali, Bandung, 1986
Meilach, Dona Z., Contemporary Lesther, Art and Accessories, Tools and Techniques, Henry Regnery Company, Chicago, 1971
Sagio dan Samsugi, Wayang Kulit gagrag Yogyakarta, Haji Masagung, Jakarta, 1991
Soedarsono, R.M.,“Industri Pariwisata: sebuah Tantangan dan Harapan bagi Negara Berkembang”, dalam Tjak Rai Sudharta, et al., Kebudayaan dan Kepribadian bangsa, Upasadha Sastra, Denpasar, 1993
Sunarto, 1995, “Seni tatah Sungging Kulit”, Diktat, jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta
__________, 2001, Pengetahuan Bahan Kulit untuk Seni dan Indutri, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
__________, “Pengembangan Desain Sovenir Kerajinan kulit”, dalam Pelatihan Spesialisasi untuk Perluasan Kesempatan Kerja Bidang Jasa Kepariwisataan yang didesiminasikan keUKM, LPM, UGM, Yogyakarta, 2001
Zaenal Abidin dan M. Gatot Pringgoto, Kreasi Air Brush Tingkat Lanjut, Penerbit Puspa Swara, Jakarta, 2002

Tidak ada komentar: