A. Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah baik sumber galian (tambang) maupun hasil hutan yang bermacam jenis kayu, rotan, bambu dan hasil hutan lainnya, dapat mengahsilkan devisa serta dapat menyejahterakan masyarakat. Kayu dan hasil hutan lainnya merupakan sumber alam yang dapat diperbaruhi, sehingga tidak mengkhawatirkan akan kehabisan bahan ini, jika kita mau berusaha untuk membuat hutan (menghutankan) lahan yang baru. Hasil hutan yang bemacam-macam itu dapat memenuhi kebutuhan manusia, karena dari bahan itu dapat diwujudkan berbagai jenis perabotan maupun kebutuhan lain seperti cenderamata.
Istilah cenderamata cukup populer dikalangan perajin maupun pemerintahan dan diyakini dapat menghidupi sebagian masyarakat khususnya yang berusaha dalam bidang kerajinan. Cenderamata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kepariwisataan yang berfungsi sebagai buah tangan. Cenderamata merupakan sesuatu yang diperoleh seseorang ditempat kunjungan yang disimpan sebagai tanda kenang-kenangan mengenai seseorang, suatu tempat, obyek atau peristiwa yang pernah dialaminya.
B. Masalah Cenderamata
Masalah cenderamata sangat erat hubungannya dengan kegiatan pariwisata, sebab cenderamata merupakan salah satu kebutuhan bagi wisatawan. Cenderamata merupakan barang kenang-kenangan yang melengkapi pengalaman dan kesenangan bagi wisatawan yang berkujung di daerah tertentu. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, cenderamata disebut dengan istilah souvenir yang mempunyai pengertian sebagai tanda mata, atau kenang-kenangan. Tanda mata nerupa benda atau barang yang diperoleh seseorang di tempat kunjungan, yang disimpan sebagai tanda kenang-kenangan, mengenai seseorang, suatu tempat, obyek atau suatu peristiwa yang pernah dialami pada suatu saat yang telah lampau. Tanda mata itu baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai tanda mata yang diberikan kepada sanak keluarga dan sahabat sebagai buah tangan. Adanya barang yang berfungsi sebagai buah tangan atau barang kenangan yang baik dan menarik, maka para wisatawan akan puas dan akan memperoleh kesan yang mendalam.
Wisatawan pada umumnya datang dari tempat yang jauh dan dalam berkunjung akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya kadang berjauhan. Hal ini merupakan kendala dalam mewujudkan sebuah cenderamata, sehingga muncul persyaratan-persyaratan bagi sebuah barang cenderamata, yaitu:
1. Barang cenderamata berukuran kecil, hal ini berhubungan dengan kepraktisan dalam membawa barang tersebut dan tidak banyak memerlukan tempat, mengingat bahwa wisatawan berpindah-pindah.
2. Barang cenderamata harus ringan, persyaratan ini berhubungan dengan beban yang harus ditanggung oleh wisatawan, dengan tambahnya beberapa barang tersebut tidak merepotkan
3. Barang cenderamata relatif murah bagi ukuran wisatawan, hal ini agar para wisatawan dapat mengambil barang cenderamata sebanyak-banyaknya baik jumlah maupun macamnya sesuai dengan yang dikehendaki.
4. barang cenderamata harus spesifik (karakterristik), persyaratan ini mengandung pengertian bahwa barang cenderamata itu tidak akan diperoleh di daerah lain, sehingga untuk mendapatkannya harus mengunjungi tempat tertentu.
Di samping persyaratan tersebut di atas, perlu diperhatikan pula hal lain yang berhubungan dengan kondisi atau latar belakang calon konsumen (wisatawan), yang meliputi beberapa aspek seperti asal Negara, keadaan geografis atau musim, budaya dan lingkungan, dan beberapa kendala lainnya (IGMD Gunarsa, 1989:12).
Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa barang cenderamata yang digemari oleh wisatawan domestik maupun wisatawan manca Negara adalah barang hiasan yang ber wujud benda seni yang mempunyai hiasan dengan motif tradisional (kedaerahan), kemudian barang yang dihasilkan dengan proses pembuatannya dilakukan dengan sistem tradisional dengan peralatan sederhana. Barang cenderamata yang digemari wisatawan adalah barang yang memiliki ciri khas daerah dan benda-benda klasik (Sukarsono, 1989: 5).
Berbagai jenis kerajinan pada mulanya merupakan kegiatan sampingan dari usaha utamanya bertani. Pada saat selesai musim tanam para petani memiliki waktu luang, untuk mengisi waktu luang itulah orang membuat kerajinan yang berupa barang kebutuhan sehari-hari dan barang sederhana lainnya yang terbuat dari bahan yang ada disekelilingnya. Produk sampingan itu pada awalnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan lingkungannya. Namun semakin lama semakin baik mutunya, sehingga banyak orang lain yang membutuhkan. Akhirnya setelah diketahui bahwa kerja sampingan itu dapat mendatangkan uang dan kadang lebih mengutungkan, maka tidak sedikit orang yang berpindah profesi sebagai perajin.
Dalam perkembangan berikutnya tidak sedikit pula yang berhasil menjadi pegusaha besar dalam bidang industri kerajinan dengan tenaga kerja yang berjumlah puluhan orang. Barang yang dibuat tidak lagi untuk kepentingan diri sendiri dan lingkungannya tetapi telah berkembang menjadi suatu produk dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu tidak lagi diusahakan sebagai kegiatan sampingan, tetapi telah menjadi usaha utama sebagai penyangga hidup diri sendiri dan keluarga serta orang lain. Hal ini tidak mengherankan sebab semakin hari semakin banyak orang menggunakan barang seni kerajinan untuk memenuhi kebutuhannya, baik untuk keperluan sehari-hari seperti perabot kelengkapan rumah tangga, maupun barang sebagai hiasan atau kelangenan, hingga produk-produk komuditi eksport (Sunarto, 1989: 1)
Produk-produk cinderamata dewasa ini telah banyak ragamnya, dihasilkan oleh daerah-daerah yang terkenal sebagai produk seni kerajinan dengan penampilan yang cukup menarik. Cenderamata yang berfungsi sebagai permainan, keperluan para remaja seperti gantungan kunci, gantungan tas, dan barang-barang perhiasan laintelah memiliki mutu yang baik. Di samping itu ada pula barang kebutuhan rumah tangga, serta barang-barang hias seperti miniatur-miniatur dari hasil budaya, sebagian telah memenuhi harapan wisatawan, namun masih dijumpai berbagai kekurangan. Hal ini dapat dilihat dari aspek bahan ada perajin yang membuat barang cenderamata dengan bahan seadanya.
Untuk membuat barang cenderamata yang dianggap layak, bahan yang digunakan harus memenuhi persyaratan-pesyaratan sebagai berikut: (1) persyaratan teknis, yang berkaitan dengan kondisi bahan (kayu) yang berhubungan dengan proses pengerjaan, dan pengolahan bahan. (2) persyaratan ekonomis, yang dimaksudkan adalah tidak saja menyangkut tentang harga (nilai finansial) saja, tetapi menyangkut pula tentang, mudah tidaknya bahan itu dapat diperoleh, banyaknya bahan yang tersedia (Soejanto B.M.,1985: 8). (3) Persyaratan estetis, yang dimaksudkan dengan persyaratan ini adalah berkaitan dengan pertimbangan karakter bahan, nilai dekoratif dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keunikan. Seperti diketahui bahwa dari setiap material sabagai bahan cenderamata memiliki karakter yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Misalnya bahan kayu nilai itu dapat dicermati melalui serat kayu, lingkaran tahun, teksture kayu, warna dan sifat fisis lainnya.
C. Langkah-langkah pembuatan produk Cenderamata
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merencanakan bentuk produk yang akan dibuat, hal ini dapat dilakukan dengan membuat gambar rencana terlebih dahulu, kemudian bahan mengikuti bentuk rancangan, seperti yang lazim dilakukan dalam seni kerajinan. Namun dapat pula dilakukan dengan mencermati bahan yang akan digunakan, baru bentuk produk yang akan dibuat ditentukan, hal ini umum dilakukan ketika pembuatan produk menggunakan bahan sisa atau limbah.
Dalam menentukan produk ini pada umumnya akan mengalami kesulitan, karena sangat banyak jenis produk yang dapat dibuat. Oleh karena itu untuk menentukan jenis yang tepat sasaran dapat dilakuan dengan kegiatan pencermatan pada kehidupan/kegiatan sehari-hari. Pencermatan terhadap kegiatan seseorang sejak bangun tidur hingga pergi tidur. Setiap kegiatan seseorang itu akan membutuhkan sarana dan prasarana tertentu, yang dapat dijadikan pedoman dalam pembuatan produk yang tepat sasaran. Di samping itu juga diperhatikan kelompok umur calon pengguna produk yang kita buat, yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa. Juga dicermati berdasar jenis kelamin apakan produk itu diperuntukan bagi wanita atau pria.
Sesungguhnya kegiatan pencermatan ini baru untuk menentukan bentuk produk berdasar fungsinya. Setelah fungsi produk ditentukan, kegiatan berikut adalah mencari data melalui sumber pustaka atau melalui sumber kancah (lapangan). Data yang dibutuhkan berkaitan dengan masalah standarisasi, ukuran, barang-barang sejenis yang pernah dibuat yang akan dijadikan bahan pembanding. Di samping itu dibutuhkan pula data yang berkaitan dengan ciri khas kedaerahan, dalam hal ini dapat ditelusuri melalui sejarah, cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, cerita rakyat, peninggalan budaya, adat istiadat, kesenian rakyat dan sebagainya terutama yang memiliki spesifikasi khusus dan karakteristik.
Data yang terkumpul itu akan menjadi bahan yang akan diolah pada saat proses desaining atau proses perencanaan. Jika segala sesuatu yang dibutuhkan telah tersedia, dapat dimulai langkah awal yaitu membuat rancangan produknya, yaitu dengan membuat gambar sketsa untuk mencari bentuk dasar, kemudian gambar yang dianggap paling baik dipilih untuk proses selanjutnya. Setelah rancangan bentuk dasar diketemukan, selanjutnya dilakukan perancangan dekorasinya, dengan mengambil pola ragam hias tradisional yang memiliki ciri khas. Jika telah didapatkan bentuk dan dekorasinya, kemudian diberi keterangan yang berkaitan dengan teknik yang digunakan, skala, finishing, ukuran dan sebagainya, sehingga rancangan itu dapat diketahui secara jelas terutama bila yang akan membuat produknya orang lain.
Jika produk yang akan dibuat telah ditentukan dan bahan yang akan digunakan telah dipilih, selanjutnya adalah proses pengukiran (sesuai dengan teknik yang dipakai, seperti anyam, baik, dll). Dimulai dengan membentuk produk itu secara global, kemudian sedikit demi sedikit dibuat ditail-ditailnya. Jika memakai teknik ukir harus dilakukan secara hati-hati, karena proses ukir dilakukan dengan mengurangi kayu sedikit demi sedikit, sehingga jika ada kesalahan akan sukar untuk perbaikannya. Bila terjadi demikian ada dua kemungkinan membuat bagian yang terlanjur ditatah dengan motif lain, atau di-tambal, namun jika keduanya tidak mungkin dilakukan, maka dalam pembuatan produk itu harus mengganti dengan bahan lainnya. Untuk teknik yang lain menyesuaikan dengan prosesnya.
Jika produk itu telah selesai, selanjutnya dilakukan penghalusan dari sisa-sisa pahatan dengan menggunakan amplas halus sehingga menjadi licin dan halus . Dalam mengaplas ukiran perlu dilakuakan dengan mengikuti irama ukirannya (motif), agar runtut, sehingga hasilnya akan memuaskan.
Langkah akhir pembutanan cenderamata adalah finishing, yaitu perlakuan akhir terhadap produk yang dihasilkan. Tujuan dari kegiatan finishing adalah untuk memperindah penampilan agar produk itu sempurna. Di samping itu finishing berguna untuk melindungi produk dari kerusakan karena pengaruh cuaca, serangan binatang perusak, dan sebagainya. Ada beberapa jenis finishing kayu dan bahan sejenis lainnya dapat dialakukan, diantaranya:
1. Finishing politur kayu menggunakan bahan serlak dan sepritus, jenis finishing ini digunakan untuk produk-produk yang ingin menampilkan keindahan bahan alami, karena memiliki nilai dekoratif yang baik, sehingga sayang jika ditutup. Sifat dari finishing politur adalah transparan, sehingga keaslian bahan dapat terlihat yang memberi kesan mewah, seperti produk-produk klasik/ tradisional.
2. Finishing bakar, yaitu dalam kegiatan ini menggunakan proses pembakaran pada produk. Dalam pembakaran itu serat-serat lunak akan cepat menjadi abu, sedangkan serat yang keras akan bertahan, jika bagian yang lunak telah dibersihkan, maka serat-serat kayu yang masih tertinggal akan menjadikan tampilan lebih menarik. Teknik finishing yang demikian ini dimungkinkan untuk produk-produk yang berkesan antik (primitif).
3. Finishing cat (sungging), yaitu finishing kayu dengan menggunakan bahan cat. Jenis finishing ini memiliki sifat menutup, sehingga tidak cocok digunakan untuk produk-produk yang bahannya memiliki nilai dekoratif yang tinggi, tetapi umumnya digunakan untuk jenis produk yang bahan kayunya tidak memiliki nilai dekoratif yang baik atau untuk menutupi kekurangan-kekurangan produk itu, karena bahan yang digunakan tidak memenuhi syarat (standard), seperti gubal, cacat-cacat, disambung, dan sebagainya. Kesan yang diperoleh dari jenis finishing ini akan memberikan keagungan dan kemewahan.
4. Teknik finishing batik kayu, yaitu finishing dengan menggunakan teknik batik, prosesnya menggunakan lilin (malam) untuk menutup bagian yang diinginakan mempunyai warna asli kayu, kemudian di celup dengan warna naftol. Jika lilin yang menempel pada kayu itu dihilangkan, maka akan terdapat hiasan atau dekorasi dari kombinasi warna asli kayu dengan warna naftol. Bila menginginkan warna lebih dari satu, dapat dilakukan proses tutup lilin itu berulang-ulang sesuai dengan jumlah warna yang diinginkan. Finishing jenis ini direkomendasikan untuk produk kayu yang menggunakan jenis bahan lunak, karena jenis bahan ini akan mampu menyerap warna dengan baik.
Jika beberapa langkah di atas telah dilakukan, maka proses pembuatan produk cenderamata dianggap selesai. Masih ada kegiatan lain untuk menyempurnakan produk tersebut, bila untuk komuditi perdagangan, yaitu berkaitan dengan masalah kemasan produk juga perlu diperhatikan.
D. Masalah Pemasaran Cenderamata
Dalam ekonomi masyarakat dikenal kegiatan produksi, pemasaran dan konsumen. Kegiatan produksi yang dimaksudkan adalah suatu kegiatan yang mengubah bentuk suatu barang (bahan) menjadi barang lain yang mempunyai kegunaan lebih besar. Kegiatan produksi tersebut akan menjadi lebih berarti kalau akhirnya barang yang dihasilkan dapat digunakan atau dikomsumir oleh masyarakat (Kantor Perdagangan Bantul,1990:1). Berpindahnya hak barang keorang lain (masyarakat) itu yang dimaksudkan dengan pemasaran.
Pemasaran sendiri diartikan sebagai tindakan-tindakan yang menyebabkan pindahnya hak milik atas benda dan jasa (Winardi, 1980: 3). Pemasaran lebih merupakan suatu jembatan antara produsen dan konsumen. Kegiatan dimulai semenjak suatu barang dan jasa selesai diproduksi hingga mendistribusikannya sampai ketangan konsumen (Oka A. Yoeti, 1980:28). Konsumen adalah pemakai dari hasil-hasil yang telah diproduksi oleh produsen, baik barang maupun jasa.
Pemasaran adalah salah satu kegiatan yang sangat penting bagi kegiatan produksi. Jika berputarnya barang menjadi uang dapat berjalan cepat, maka kegiatan produksi akan lacar. Untuk memperlancar kegiatan pemasaran cenderamata, ada empat persyaratan dikenal empat tepat, yaitu: (1) Tepat Waktu, yang dimaksudan adalah ketepatan pengiriman sesuai dengan perjanjian berapa lama proses produksi dibutuhkan. (2) tepat Jumlah, maksudnya adalah kemampuan memproduksi dalam waktu tertentu sesuai dengan perjanjian, bila dalam waktu tertentu sanggup mengirim jumlah tertentu sesuai pesanan tidak boleh kurang. (3) tepat harga, nilai suatu barang harganya wajar, dan (4) tepat mutu, yang dimaksudkan adalah kualitas barang sesuai dengan yang ditawarkan.
Mutu merupakan salah satu aspek penting sebagai penentu keberhasilan pemasaran. Jika mutu suatu produk tidak diperhatikan, akan berpengaruh terhadap kegiatan perputaran barang menjadi uang. Bila hal ini terjadi yang akan menanggung akibatnya adalah para produsen. Oleh karena itu perlu dijaga stabilitas mutu produk. Apa lagi untuk barang cenderamata, umumnya perajin kurang dapat menjaga mutu produknya.
E. Penutup
Uraian yang telah dipaparkan di atas dapatlah memberi gambaran singkat mengenai langkah-langkah dalam penciptaan seni kriya sebagai cinderamata, dengan mefanfaatkan bahan (material) yang semula tidak dimanfaatkan menjadi bermanfaat untuk berbagai kepentingan. Di samping itu pemanfaatan bahan disekeliling kita akan mendatangkan nilai tambah, seperti bahan limbah kayu yang semula hanya digunakan untuk kayu bakar atau keperluan lainnya, setelah diolah dengan kreatif akan dapat ditingkatkan nilainya.
Untuk dapat mewujudkan produk cinderamata secara optimal, perlu disukung oleh ketrampilan yang memadahi, sehingga dari sisi SDM perlu ditingkatkan, sehingga memiliki ketrampilan yang cukup untuk melakukan produksi. Ketrampilan dapat dimiliki dengan semangat yang besar dan dilandasi oleh niat yang kuat untuk berlatih dan berlantih terus, karena ketrampilan tidak dapat dipelajari secara teoritis, tetapi hrus dengan latihan-latihan secara teratur. Peningkatan ketampilan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pelatihan yang dilakukan pada saat ini.
Pada akhirnya pengolahan bahan baku alami yang cukup melimpah di daerah ini, seperti yang diuraikan di atas belum lah cukup, tetapi harus ditindak lanjuti oleh semua fihak yang berkepentingan, baik pemerintah, swasta, lembaga pendidikan dan lain sebagaianya untuk membantu fasilitas dan sarana lain agar dapat berkembang, karena kedepannya kegiatan produksi memerlukan saluran pemasaran.
Daftar Kepustakaan
Agus Acmadi, 1990, “ ragam Hias Batak Sebagai dasar penciptaan benda sovenir’, laporan tugas akhir, Jurusan kriya, FSRD ISI Yogyakarta
Anne Richter, 1994, Art and Craft of Indonesia, Chronicle Books, San Fransisco
But Mucthar, 1989, Daya Cipta Bidang Kriya, dalam Seni Jurnal Pengetahuan dan penciptaan seni, ISI Yogyakarta
Claire Holt, 1967, Art in Indonesia: cantinuities and Change, Cornell University Press, Ithaca new York
Gunarsa, IGMD, 1989, “Perkembangan desain produk Kerajinan dalam meningkatkan konsumen yang lebih luas, ditinjau dari aspek praktis”, makalah, Dewan kerajinan nasional, Jakarta.
Joseph Fischer, 1994, The Folk Art of Java, Oxford university Press, Oxford, Singapore
Kantar Perdagangan Kabupaten Bantul, 1990, “ Pemasaran sebagai titik tolak usaha” Makalah, materi Pelajaran pada kursus kerajinan Kulit (Tatah sungging) di Desa Bangunjiwo, Kec. Kasihan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta
Oka A. Yoeti, 1972, Pemasaran Pariwisata, Penerbit Angkasa, Bandung
Soedarso SP, 1972, Prospek Pengembangan disain produk Indonesia, Diktat, Balai Kerajinan Rakyat D.I Yogyakarta.
Soekarsono, 1981, Peran pariwisata dalam membina seni kerajinan sebagai barang sovenir, Derektorat Jenderal pariwisata, Jakarta.
Soerjanto Besar Moeljono F.X,. 1985, Pengantar perkayuan, Yayasan Kanisius, Yogyakarta
Sunarto, 1989, “Peranan Desain dalam Peningkatan produk kerajinan”, makalah, jurusan Kriya, FSRD ISI Yogyakarta.
Contoh produk kerajinan dan cenderamata kayu
Sunarto, “Pemanfaatan Limbah Kayu MasyarakatDi Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur Untuk Seni Kerajinan Ukir Kayu Dan Cenderamata”, materi pelatihan diselenggarakan oleh Cifor, di Wanariset Malinou, tanggal 17-30 April 2005
Winardi, 1980, Azas-azas Marketing, Penerbit Alumni, Badung
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah baik sumber galian (tambang) maupun hasil hutan yang bermacam jenis kayu, rotan, bambu dan hasil hutan lainnya, dapat mengahsilkan devisa serta dapat menyejahterakan masyarakat. Kayu dan hasil hutan lainnya merupakan sumber alam yang dapat diperbaruhi, sehingga tidak mengkhawatirkan akan kehabisan bahan ini, jika kita mau berusaha untuk membuat hutan (menghutankan) lahan yang baru. Hasil hutan yang bemacam-macam itu dapat memenuhi kebutuhan manusia, karena dari bahan itu dapat diwujudkan berbagai jenis perabotan maupun kebutuhan lain seperti cenderamata.
Istilah cenderamata cukup populer dikalangan perajin maupun pemerintahan dan diyakini dapat menghidupi sebagian masyarakat khususnya yang berusaha dalam bidang kerajinan. Cenderamata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kepariwisataan yang berfungsi sebagai buah tangan. Cenderamata merupakan sesuatu yang diperoleh seseorang ditempat kunjungan yang disimpan sebagai tanda kenang-kenangan mengenai seseorang, suatu tempat, obyek atau peristiwa yang pernah dialaminya.
B. Masalah Cenderamata
Masalah cenderamata sangat erat hubungannya dengan kegiatan pariwisata, sebab cenderamata merupakan salah satu kebutuhan bagi wisatawan. Cenderamata merupakan barang kenang-kenangan yang melengkapi pengalaman dan kesenangan bagi wisatawan yang berkujung di daerah tertentu. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, cenderamata disebut dengan istilah souvenir yang mempunyai pengertian sebagai tanda mata, atau kenang-kenangan. Tanda mata nerupa benda atau barang yang diperoleh seseorang di tempat kunjungan, yang disimpan sebagai tanda kenang-kenangan, mengenai seseorang, suatu tempat, obyek atau suatu peristiwa yang pernah dialami pada suatu saat yang telah lampau. Tanda mata itu baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai tanda mata yang diberikan kepada sanak keluarga dan sahabat sebagai buah tangan. Adanya barang yang berfungsi sebagai buah tangan atau barang kenangan yang baik dan menarik, maka para wisatawan akan puas dan akan memperoleh kesan yang mendalam.
Wisatawan pada umumnya datang dari tempat yang jauh dan dalam berkunjung akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya kadang berjauhan. Hal ini merupakan kendala dalam mewujudkan sebuah cenderamata, sehingga muncul persyaratan-persyaratan bagi sebuah barang cenderamata, yaitu:
1. Barang cenderamata berukuran kecil, hal ini berhubungan dengan kepraktisan dalam membawa barang tersebut dan tidak banyak memerlukan tempat, mengingat bahwa wisatawan berpindah-pindah.
2. Barang cenderamata harus ringan, persyaratan ini berhubungan dengan beban yang harus ditanggung oleh wisatawan, dengan tambahnya beberapa barang tersebut tidak merepotkan
3. Barang cenderamata relatif murah bagi ukuran wisatawan, hal ini agar para wisatawan dapat mengambil barang cenderamata sebanyak-banyaknya baik jumlah maupun macamnya sesuai dengan yang dikehendaki.
4. barang cenderamata harus spesifik (karakterristik), persyaratan ini mengandung pengertian bahwa barang cenderamata itu tidak akan diperoleh di daerah lain, sehingga untuk mendapatkannya harus mengunjungi tempat tertentu.
Di samping persyaratan tersebut di atas, perlu diperhatikan pula hal lain yang berhubungan dengan kondisi atau latar belakang calon konsumen (wisatawan), yang meliputi beberapa aspek seperti asal Negara, keadaan geografis atau musim, budaya dan lingkungan, dan beberapa kendala lainnya (IGMD Gunarsa, 1989:12).
Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa barang cenderamata yang digemari oleh wisatawan domestik maupun wisatawan manca Negara adalah barang hiasan yang ber wujud benda seni yang mempunyai hiasan dengan motif tradisional (kedaerahan), kemudian barang yang dihasilkan dengan proses pembuatannya dilakukan dengan sistem tradisional dengan peralatan sederhana. Barang cenderamata yang digemari wisatawan adalah barang yang memiliki ciri khas daerah dan benda-benda klasik (Sukarsono, 1989: 5).
Berbagai jenis kerajinan pada mulanya merupakan kegiatan sampingan dari usaha utamanya bertani. Pada saat selesai musim tanam para petani memiliki waktu luang, untuk mengisi waktu luang itulah orang membuat kerajinan yang berupa barang kebutuhan sehari-hari dan barang sederhana lainnya yang terbuat dari bahan yang ada disekelilingnya. Produk sampingan itu pada awalnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan lingkungannya. Namun semakin lama semakin baik mutunya, sehingga banyak orang lain yang membutuhkan. Akhirnya setelah diketahui bahwa kerja sampingan itu dapat mendatangkan uang dan kadang lebih mengutungkan, maka tidak sedikit orang yang berpindah profesi sebagai perajin.
Dalam perkembangan berikutnya tidak sedikit pula yang berhasil menjadi pegusaha besar dalam bidang industri kerajinan dengan tenaga kerja yang berjumlah puluhan orang. Barang yang dibuat tidak lagi untuk kepentingan diri sendiri dan lingkungannya tetapi telah berkembang menjadi suatu produk dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu tidak lagi diusahakan sebagai kegiatan sampingan, tetapi telah menjadi usaha utama sebagai penyangga hidup diri sendiri dan keluarga serta orang lain. Hal ini tidak mengherankan sebab semakin hari semakin banyak orang menggunakan barang seni kerajinan untuk memenuhi kebutuhannya, baik untuk keperluan sehari-hari seperti perabot kelengkapan rumah tangga, maupun barang sebagai hiasan atau kelangenan, hingga produk-produk komuditi eksport (Sunarto, 1989: 1)
Produk-produk cinderamata dewasa ini telah banyak ragamnya, dihasilkan oleh daerah-daerah yang terkenal sebagai produk seni kerajinan dengan penampilan yang cukup menarik. Cenderamata yang berfungsi sebagai permainan, keperluan para remaja seperti gantungan kunci, gantungan tas, dan barang-barang perhiasan laintelah memiliki mutu yang baik. Di samping itu ada pula barang kebutuhan rumah tangga, serta barang-barang hias seperti miniatur-miniatur dari hasil budaya, sebagian telah memenuhi harapan wisatawan, namun masih dijumpai berbagai kekurangan. Hal ini dapat dilihat dari aspek bahan ada perajin yang membuat barang cenderamata dengan bahan seadanya.
Untuk membuat barang cenderamata yang dianggap layak, bahan yang digunakan harus memenuhi persyaratan-pesyaratan sebagai berikut: (1) persyaratan teknis, yang berkaitan dengan kondisi bahan (kayu) yang berhubungan dengan proses pengerjaan, dan pengolahan bahan. (2) persyaratan ekonomis, yang dimaksudkan adalah tidak saja menyangkut tentang harga (nilai finansial) saja, tetapi menyangkut pula tentang, mudah tidaknya bahan itu dapat diperoleh, banyaknya bahan yang tersedia (Soejanto B.M.,1985: 8). (3) Persyaratan estetis, yang dimaksudkan dengan persyaratan ini adalah berkaitan dengan pertimbangan karakter bahan, nilai dekoratif dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keunikan. Seperti diketahui bahwa dari setiap material sabagai bahan cenderamata memiliki karakter yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Misalnya bahan kayu nilai itu dapat dicermati melalui serat kayu, lingkaran tahun, teksture kayu, warna dan sifat fisis lainnya.
C. Langkah-langkah pembuatan produk Cenderamata
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merencanakan bentuk produk yang akan dibuat, hal ini dapat dilakukan dengan membuat gambar rencana terlebih dahulu, kemudian bahan mengikuti bentuk rancangan, seperti yang lazim dilakukan dalam seni kerajinan. Namun dapat pula dilakukan dengan mencermati bahan yang akan digunakan, baru bentuk produk yang akan dibuat ditentukan, hal ini umum dilakukan ketika pembuatan produk menggunakan bahan sisa atau limbah.
Dalam menentukan produk ini pada umumnya akan mengalami kesulitan, karena sangat banyak jenis produk yang dapat dibuat. Oleh karena itu untuk menentukan jenis yang tepat sasaran dapat dilakuan dengan kegiatan pencermatan pada kehidupan/kegiatan sehari-hari. Pencermatan terhadap kegiatan seseorang sejak bangun tidur hingga pergi tidur. Setiap kegiatan seseorang itu akan membutuhkan sarana dan prasarana tertentu, yang dapat dijadikan pedoman dalam pembuatan produk yang tepat sasaran. Di samping itu juga diperhatikan kelompok umur calon pengguna produk yang kita buat, yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa. Juga dicermati berdasar jenis kelamin apakan produk itu diperuntukan bagi wanita atau pria.
Sesungguhnya kegiatan pencermatan ini baru untuk menentukan bentuk produk berdasar fungsinya. Setelah fungsi produk ditentukan, kegiatan berikut adalah mencari data melalui sumber pustaka atau melalui sumber kancah (lapangan). Data yang dibutuhkan berkaitan dengan masalah standarisasi, ukuran, barang-barang sejenis yang pernah dibuat yang akan dijadikan bahan pembanding. Di samping itu dibutuhkan pula data yang berkaitan dengan ciri khas kedaerahan, dalam hal ini dapat ditelusuri melalui sejarah, cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, cerita rakyat, peninggalan budaya, adat istiadat, kesenian rakyat dan sebagainya terutama yang memiliki spesifikasi khusus dan karakteristik.
Data yang terkumpul itu akan menjadi bahan yang akan diolah pada saat proses desaining atau proses perencanaan. Jika segala sesuatu yang dibutuhkan telah tersedia, dapat dimulai langkah awal yaitu membuat rancangan produknya, yaitu dengan membuat gambar sketsa untuk mencari bentuk dasar, kemudian gambar yang dianggap paling baik dipilih untuk proses selanjutnya. Setelah rancangan bentuk dasar diketemukan, selanjutnya dilakukan perancangan dekorasinya, dengan mengambil pola ragam hias tradisional yang memiliki ciri khas. Jika telah didapatkan bentuk dan dekorasinya, kemudian diberi keterangan yang berkaitan dengan teknik yang digunakan, skala, finishing, ukuran dan sebagainya, sehingga rancangan itu dapat diketahui secara jelas terutama bila yang akan membuat produknya orang lain.
Jika produk yang akan dibuat telah ditentukan dan bahan yang akan digunakan telah dipilih, selanjutnya adalah proses pengukiran (sesuai dengan teknik yang dipakai, seperti anyam, baik, dll). Dimulai dengan membentuk produk itu secara global, kemudian sedikit demi sedikit dibuat ditail-ditailnya. Jika memakai teknik ukir harus dilakukan secara hati-hati, karena proses ukir dilakukan dengan mengurangi kayu sedikit demi sedikit, sehingga jika ada kesalahan akan sukar untuk perbaikannya. Bila terjadi demikian ada dua kemungkinan membuat bagian yang terlanjur ditatah dengan motif lain, atau di-tambal, namun jika keduanya tidak mungkin dilakukan, maka dalam pembuatan produk itu harus mengganti dengan bahan lainnya. Untuk teknik yang lain menyesuaikan dengan prosesnya.
Jika produk itu telah selesai, selanjutnya dilakukan penghalusan dari sisa-sisa pahatan dengan menggunakan amplas halus sehingga menjadi licin dan halus . Dalam mengaplas ukiran perlu dilakuakan dengan mengikuti irama ukirannya (motif), agar runtut, sehingga hasilnya akan memuaskan.
Langkah akhir pembutanan cenderamata adalah finishing, yaitu perlakuan akhir terhadap produk yang dihasilkan. Tujuan dari kegiatan finishing adalah untuk memperindah penampilan agar produk itu sempurna. Di samping itu finishing berguna untuk melindungi produk dari kerusakan karena pengaruh cuaca, serangan binatang perusak, dan sebagainya. Ada beberapa jenis finishing kayu dan bahan sejenis lainnya dapat dialakukan, diantaranya:
1. Finishing politur kayu menggunakan bahan serlak dan sepritus, jenis finishing ini digunakan untuk produk-produk yang ingin menampilkan keindahan bahan alami, karena memiliki nilai dekoratif yang baik, sehingga sayang jika ditutup. Sifat dari finishing politur adalah transparan, sehingga keaslian bahan dapat terlihat yang memberi kesan mewah, seperti produk-produk klasik/ tradisional.
2. Finishing bakar, yaitu dalam kegiatan ini menggunakan proses pembakaran pada produk. Dalam pembakaran itu serat-serat lunak akan cepat menjadi abu, sedangkan serat yang keras akan bertahan, jika bagian yang lunak telah dibersihkan, maka serat-serat kayu yang masih tertinggal akan menjadikan tampilan lebih menarik. Teknik finishing yang demikian ini dimungkinkan untuk produk-produk yang berkesan antik (primitif).
3. Finishing cat (sungging), yaitu finishing kayu dengan menggunakan bahan cat. Jenis finishing ini memiliki sifat menutup, sehingga tidak cocok digunakan untuk produk-produk yang bahannya memiliki nilai dekoratif yang tinggi, tetapi umumnya digunakan untuk jenis produk yang bahan kayunya tidak memiliki nilai dekoratif yang baik atau untuk menutupi kekurangan-kekurangan produk itu, karena bahan yang digunakan tidak memenuhi syarat (standard), seperti gubal, cacat-cacat, disambung, dan sebagainya. Kesan yang diperoleh dari jenis finishing ini akan memberikan keagungan dan kemewahan.
4. Teknik finishing batik kayu, yaitu finishing dengan menggunakan teknik batik, prosesnya menggunakan lilin (malam) untuk menutup bagian yang diinginakan mempunyai warna asli kayu, kemudian di celup dengan warna naftol. Jika lilin yang menempel pada kayu itu dihilangkan, maka akan terdapat hiasan atau dekorasi dari kombinasi warna asli kayu dengan warna naftol. Bila menginginkan warna lebih dari satu, dapat dilakukan proses tutup lilin itu berulang-ulang sesuai dengan jumlah warna yang diinginkan. Finishing jenis ini direkomendasikan untuk produk kayu yang menggunakan jenis bahan lunak, karena jenis bahan ini akan mampu menyerap warna dengan baik.
Jika beberapa langkah di atas telah dilakukan, maka proses pembuatan produk cenderamata dianggap selesai. Masih ada kegiatan lain untuk menyempurnakan produk tersebut, bila untuk komuditi perdagangan, yaitu berkaitan dengan masalah kemasan produk juga perlu diperhatikan.
D. Masalah Pemasaran Cenderamata
Dalam ekonomi masyarakat dikenal kegiatan produksi, pemasaran dan konsumen. Kegiatan produksi yang dimaksudkan adalah suatu kegiatan yang mengubah bentuk suatu barang (bahan) menjadi barang lain yang mempunyai kegunaan lebih besar. Kegiatan produksi tersebut akan menjadi lebih berarti kalau akhirnya barang yang dihasilkan dapat digunakan atau dikomsumir oleh masyarakat (Kantor Perdagangan Bantul,1990:1). Berpindahnya hak barang keorang lain (masyarakat) itu yang dimaksudkan dengan pemasaran.
Pemasaran sendiri diartikan sebagai tindakan-tindakan yang menyebabkan pindahnya hak milik atas benda dan jasa (Winardi, 1980: 3). Pemasaran lebih merupakan suatu jembatan antara produsen dan konsumen. Kegiatan dimulai semenjak suatu barang dan jasa selesai diproduksi hingga mendistribusikannya sampai ketangan konsumen (Oka A. Yoeti, 1980:28). Konsumen adalah pemakai dari hasil-hasil yang telah diproduksi oleh produsen, baik barang maupun jasa.
Pemasaran adalah salah satu kegiatan yang sangat penting bagi kegiatan produksi. Jika berputarnya barang menjadi uang dapat berjalan cepat, maka kegiatan produksi akan lacar. Untuk memperlancar kegiatan pemasaran cenderamata, ada empat persyaratan dikenal empat tepat, yaitu: (1) Tepat Waktu, yang dimaksudan adalah ketepatan pengiriman sesuai dengan perjanjian berapa lama proses produksi dibutuhkan. (2) tepat Jumlah, maksudnya adalah kemampuan memproduksi dalam waktu tertentu sesuai dengan perjanjian, bila dalam waktu tertentu sanggup mengirim jumlah tertentu sesuai pesanan tidak boleh kurang. (3) tepat harga, nilai suatu barang harganya wajar, dan (4) tepat mutu, yang dimaksudkan adalah kualitas barang sesuai dengan yang ditawarkan.
Mutu merupakan salah satu aspek penting sebagai penentu keberhasilan pemasaran. Jika mutu suatu produk tidak diperhatikan, akan berpengaruh terhadap kegiatan perputaran barang menjadi uang. Bila hal ini terjadi yang akan menanggung akibatnya adalah para produsen. Oleh karena itu perlu dijaga stabilitas mutu produk. Apa lagi untuk barang cenderamata, umumnya perajin kurang dapat menjaga mutu produknya.
E. Penutup
Uraian yang telah dipaparkan di atas dapatlah memberi gambaran singkat mengenai langkah-langkah dalam penciptaan seni kriya sebagai cinderamata, dengan mefanfaatkan bahan (material) yang semula tidak dimanfaatkan menjadi bermanfaat untuk berbagai kepentingan. Di samping itu pemanfaatan bahan disekeliling kita akan mendatangkan nilai tambah, seperti bahan limbah kayu yang semula hanya digunakan untuk kayu bakar atau keperluan lainnya, setelah diolah dengan kreatif akan dapat ditingkatkan nilainya.
Untuk dapat mewujudkan produk cinderamata secara optimal, perlu disukung oleh ketrampilan yang memadahi, sehingga dari sisi SDM perlu ditingkatkan, sehingga memiliki ketrampilan yang cukup untuk melakukan produksi. Ketrampilan dapat dimiliki dengan semangat yang besar dan dilandasi oleh niat yang kuat untuk berlatih dan berlantih terus, karena ketrampilan tidak dapat dipelajari secara teoritis, tetapi hrus dengan latihan-latihan secara teratur. Peningkatan ketampilan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pelatihan yang dilakukan pada saat ini.
Pada akhirnya pengolahan bahan baku alami yang cukup melimpah di daerah ini, seperti yang diuraikan di atas belum lah cukup, tetapi harus ditindak lanjuti oleh semua fihak yang berkepentingan, baik pemerintah, swasta, lembaga pendidikan dan lain sebagaianya untuk membantu fasilitas dan sarana lain agar dapat berkembang, karena kedepannya kegiatan produksi memerlukan saluran pemasaran.
Daftar Kepustakaan
Agus Acmadi, 1990, “ ragam Hias Batak Sebagai dasar penciptaan benda sovenir’, laporan tugas akhir, Jurusan kriya, FSRD ISI Yogyakarta
Anne Richter, 1994, Art and Craft of Indonesia, Chronicle Books, San Fransisco
But Mucthar, 1989, Daya Cipta Bidang Kriya, dalam Seni Jurnal Pengetahuan dan penciptaan seni, ISI Yogyakarta
Claire Holt, 1967, Art in Indonesia: cantinuities and Change, Cornell University Press, Ithaca new York
Gunarsa, IGMD, 1989, “Perkembangan desain produk Kerajinan dalam meningkatkan konsumen yang lebih luas, ditinjau dari aspek praktis”, makalah, Dewan kerajinan nasional, Jakarta.
Joseph Fischer, 1994, The Folk Art of Java, Oxford university Press, Oxford, Singapore
Kantar Perdagangan Kabupaten Bantul, 1990, “ Pemasaran sebagai titik tolak usaha” Makalah, materi Pelajaran pada kursus kerajinan Kulit (Tatah sungging) di Desa Bangunjiwo, Kec. Kasihan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta
Oka A. Yoeti, 1972, Pemasaran Pariwisata, Penerbit Angkasa, Bandung
Soedarso SP, 1972, Prospek Pengembangan disain produk Indonesia, Diktat, Balai Kerajinan Rakyat D.I Yogyakarta.
Soekarsono, 1981, Peran pariwisata dalam membina seni kerajinan sebagai barang sovenir, Derektorat Jenderal pariwisata, Jakarta.
Soerjanto Besar Moeljono F.X,. 1985, Pengantar perkayuan, Yayasan Kanisius, Yogyakarta
Sunarto, 1989, “Peranan Desain dalam Peningkatan produk kerajinan”, makalah, jurusan Kriya, FSRD ISI Yogyakarta.
Contoh produk kerajinan dan cenderamata kayu
Sunarto, “Pemanfaatan Limbah Kayu MasyarakatDi Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur Untuk Seni Kerajinan Ukir Kayu Dan Cenderamata”, materi pelatihan diselenggarakan oleh Cifor, di Wanariset Malinou, tanggal 17-30 April 2005
Winardi, 1980, Azas-azas Marketing, Penerbit Alumni, Badung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar